Jumat, 16 November 2012

ECHO-FRIENDLY BUSINESS PROCESS


Abstract :
Nowadays, the issue about natural change become a global's concerned. It is because of global warming. The impact of this environment and natural changes, such as climate change, would certainly affectpeople's lives. Disadvantages socialty and economically will reduce the level of public welfare in general. This, in turn, will impact on business practices that had been occupied by businessmen. It causing businessmes to change the new strategy of business processes, a process business-friendly environment.

Perubahan iklim global yang terjadi pada era ini merupakan implikasi dari pemanasan global yang terjadi karena meningkatnya gas-gas rumah kaca yang dominan ditimbulkan oleh industri. Dampak dari perubahan iklim dirasakan secara social ekonomi oleh masyarakat dan lingkungan alam dari semua Negara di kawasan Asia-Pasifik, termasuk Indonesia. Perubahan iklim yang dapat menyebabkan kerusakan alam dapat menurunkan aset bisnis dan standar kehidupan masyarakat. Beberapa penelitian menyatakan bahwa, perubahan iklim menyebabkan kerusakan yang terjadi pada kisaran 1-1,5 persen dari Produk Domestik Bruto(PDB) per tahun untuk negara-negara maju, dan 2-9 persen untuk negara-negara berkembang.
Keadaan seperti ini yang menyebabkan perusahaan-perusahaan merubah strategi proses bisnis yang baru yaitu “Go Green” atau ramah lingkungan. Tertulis dalam Jurnal Perancangan Produk Berbasis Lingkungan oleh Saifuddin MN “Dalam kaitannya dengan industri, perlu dikembangkan aspek bisnis yang tidak hanya berorientasi ekonomi tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan lingkungan. Pada tahun 1992 setelah KTT di Rio, World Bussiness Council for Sustainable Development (WBCSD) memperkenalkan konsep “eco-efficiency” yang menghubungkan antara kelestarian lingkungan dengan keuntungan ekonomi, atau “menciptakan nilai tambah produk (kualitas & kuantitas) tanpa merusak lingkungan”.

Proses Bisnis yang ramah lingkungan adalah rangkaian kegiatan bisnis pada suatu organisasi atau perusahaan yang mempertimbangkan aspek lingkungan di setiap langkah proses bisnis yang dilalui. Proses bisnis yang dijalani tidak hanya mencari keuntungan semata, tetapi juga mempertimbangkan efek positif maupun negatif dari proses bisnis tersebut dengan menjaga keseimbangan lingkungan, dan menggunakan cara, bahan, dan alat-alat yang ramah lingkungan dan menghasilkan produk yang ramah lingkungan.

Perancangan Produk Berbasik Lingkungan
Proses bisnis yang berbasis lingkungan dapat dijalankan dengan merancang produk yang berbasis lingkungan

Tertulis dalam Jurnal Perancangan Produk Berbasis Lingkungan oleh Saifuddin MN :
Perancangan produk berbasis lingkungan (Design for the Environment _DFE) merupakan suatu konsep perancangan produk yang mempertimbangkan aspek lingkungan pada semua langkah yaitu langkah produksi, proses manufaktur, proses perakitan, dan setelah produk habis masa pakainya (production rump-up). Gambar 1. menunjukkan tahapan dan proses pengembangan produk, dengan kelestarian lingkungan merupakan aspek penting yang dipertimbangkan pada tiap tahapannya. Pertimbangan terhadap aspek kelestarian lingkungan ditegaskan oleh gambar bintang, dimana jumlah bintang menyatakan tingkat perhatian yang diperlukan.


Gambar 1. Proses pengembangan produk

DFE dapat mengurangi potensi efek negatif terhadap lingkungan dengan memperhatikan, mengevaluasi serta menentukan siklus hidup produk secara sistematis pada semua tahap perancangan dan pengembangan produk. Efek negatif terhadap lingkungan dapat disebabkan oleh eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan serta penggunaan material berbahaya dan material yang mengandung racun dalam pembuatan produk. Efek negatif terhadap lingkungan (udara, air dan tanah) diantaranya adalah:
- Penipisan ozon.
- Efek hujan asam dan emisi gas buangan pabrik.
- Penipisan oksigen diudara.
- Pencemaran oleh substansi beracun.
- Pencemaran oleh material padat.

Pengembangan Berkelanjutan
Pengembangan berkelanjutan dapat didefinisikan sebagai suatu upaya untuk mencapai kualitas dan kuantitas produk yang maksimal dengan mempertimbangkan aspek kelestarian lingkungan untuk kelanjutan generasi yang akan datang. Pengembangan berkelanjutan ditujukan untuk memperbaiki kualitas hidup tiap individu, tanpa mengekploitasi sumber daya alam secara berlebihan.
Untuk mewujudkan pengembangan berkelanjutan, perlu diperhatikan proses sebagai berikut, yaitu; aksi dan kesadaran tiap individu dan pelaku bisnis, perilaku konsumtif dan produktif, kebijakan, menciptakan inovasi dengan melestarikan lingkungan serta memperbaiki kualitas hidup. Faktor-faktor tersebut diatas meliputi tiga aspek penting yaitu: ekonomi, sosial dan lingkungan. Dalam dunia bisnis, ini dikenal dengan “the triple bottom line“. Hubungan tersebut ditunjukkan pada gambar 2.

Beberapa kondisi yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan berkelanjutan, yaitu:
● Menganggap bumi sebagai suatu sistem tertutup, dengan input energi matahari dan kemampuan alam untuk melakukan proses daur ulang terbatas.
● Energi matahari dan sumber daya alam merupakan sumber energi yang harus tetap berkelanjutan.
● Penggunaan sumber daya alam dan ketersediaanya harus seimbang .
● Pemakaian substansi yang berbahaya dan substansi yang mengandung racun harus dikurangi dan dihindari.

Siklus Hidup Produk
Siklus hidup produk merupakan bagian penting untuk pengembangan berkelanjutan, dengan menghubungkan antara keuntungan secara ekonomi dan kelestarian alam. Siklus hidup produk didasarkan pada prinsip untuk mencegah polusi oleh aktifitas proses produksi yang dapat mengganggu kelestarian alam, menggunakan sumber daya alam seminimal mungkin serta memperbaiki kualitas produk.

Konsep siklus hidup produk dapat dinyatakan dengan “6 RE philosophy” berikut yaitu:
Re-think, memperhatikan kembali produk dan fungsinya. Produk harus direncanakan dengan lebih efisien dengan demikian dapat menghemat pemakaian energi dan sumber daya alam.
Re-duce, menghemat energi dan konsumsi material pada semua siklus hidup produk.
Re-place, mengganti penggunaan substansi yang berbahaya dengan substansi yang ramah lingkungan.
Re-cycle, memilih material yang dapat dan mudah di daur ulang.
Re-use, merencanakan produk yang setiap bagiannya dapat digunakan kembali.
Re-pair, merencanakan produk agar mudah untuk diperbaiki sehingga tidak harus diganti.

Dunia bisnis sekarang dituntut untuk mengembangkan produk dengan konsep siklus hidup produk. Dalam konsep siklus hidup produk, proses pengembangan produk tidak hanya memperhatikan proses manufaktur saja tetapi juga mempertimbangkan efek produk terhadap lingkungan setelah produk habis masa pakainya dan proses distribusi. Melalui perbaikan siklus hidup produk, diharapkan proses produksi menjadi maksimum, harga produksi menjadi minimum dan dapat memuaskan pelanggan.

Strategi Bisnis Ramah Lingkungan
Banyak Perusahaan yang telah menerapkan proses bisnis ramah lingkungan.  Perusahaan menerapkan beberapa strategi untuk mengurangi biaya dan menambah nilai perusahaan tetapi tetap mempertimbangkan aspek lingkungan. Berikut adalah beberapa strategi berikut :

1.    Konsumsi energi di gedung atau perkantoran
– Banyak perusahaan yang kini tengah mengevaluasi besaran pemakaian energi rata-rata per meter persegi dan menerapkan langkah-langkah terbaik untuk menguranginya melalui penelitian konsumsi energi, penerapan langkah efisiensi, modifikasi peralatan, dsb.
2.    Sarana transportasi pegawai
– Beberapa contoh inisiatifnya berupa pemberian insentif bagi pekerja yang mau mennggunakan angkutan umum untuk pergi ke kantor dan menggelar program berbagi tumpangan (car/van pooling).
3.    Sarana telekomunikasi pegawai
– Insentif telekomunikasi ini bisa diberikan sebagai ganti biaya sewa ruang dan transportasi pekerja yang tidak hanya bermanfaat bagi pegawai dan perusahaan, juga bagi lingkungan.
4.    Efisiensi operasional
– Perusahaan mulai menerapkan proses penghematan energi dalam operasionalnya sehari-hari. Langkah yang  bisa dilakukan adalah dengan mengevaluasi tingkat konsumsi energi pada saat jam sibuk dan mengurangi waktu pemakaian energi pada waktu tenggang (off-hour usage).
5.    Mengurangi penggunaan kertas
– Perusahaan bisa mengurangi pemakaian kertas dengan memanfaatkan sistem telekomunikasi elektronik dan menset printer memakai ukuran kertas yang sama.
6.    Sistem daur ulang
– Praktik daur ulang umum dilakukan oleh perusahaan yang sudah memraktekkan sistem pengelolaan lingkungan seperti sistem manajemen limbah.
7.    Kemasan yang ramah lingkungan
– Harga produk bisa dipangkas dengan sistem pengemasan yang makin efisien dan ramah lingkungan.

8.    Mengurangi polusi lingkungan
–  Perusahaan kini semakin aktif mengurangi efek gas rumah kaca melalui penerapan teknologi yang makin efisien dan canggih.
Perusahaan harus memperhitungkan biaaya dan manfaat dari setiap praktik bisnis yang berkelanjutan. Jika diperlukan, perusahaan bisa memanfaatkan konsultan lingkungan untuk menganalisis proses bisnis mereka dan menerapkan praktik ramah lingkungan yang tepat bagi perusahaan.

REFERENCE :
1. Saifuddin MN. Perancangan Produk Berbasis Lingkungan : Teknik Mesin, Politeknik Negeri Lhoksumawe.
2. Maria Manurung, Elvy. PERAN PENGETAHUAN DAN PROSES BELAJAR TERHADAP PERUBAHAN STRATEGI PRAKTEK BISNIS: SEBUAH ANALISIS WACANA TENTANG PERUBAHAN IKLIM, Vol 15 Nomor 1, Januari 2011.
3. www.alpensteel.com/article/55-114-artikel-non-energi/502--bisnis-yang-ramah-lingkungan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar