Abstract :
Nowadays, the issue
about natural change become a global's concerned. It is because of global warming. The
impact of this environment and natural changes, such as climate change, would certainly
affectpeople's lives. Disadvantages socialty and economically will reduce the level
of public welfare in general. This, in turn, will impact on business practices
that had been occupied by businessmen. It causing businessmes to change the new strategy of business
processes, a process business-friendly environment.
Perubahan iklim
global yang terjadi pada era ini merupakan implikasi dari pemanasan global yang
terjadi karena meningkatnya gas-gas rumah kaca yang dominan ditimbulkan oleh industri.
Dampak dari perubahan iklim dirasakan secara social ekonomi oleh masyarakat dan
lingkungan alam dari semua Negara di kawasan Asia-Pasifik, termasuk Indonesia.
Perubahan iklim yang dapat menyebabkan kerusakan alam dapat menurunkan aset bisnis
dan standar kehidupan masyarakat. Beberapa penelitian menyatakan bahwa, perubahan
iklim menyebabkan kerusakan yang terjadi pada kisaran 1-1,5 persen dari Produk Domestik
Bruto(PDB) per tahun untuk negara-negara maju, dan 2-9 persen untuk negara-negara
berkembang.
Keadaan seperti ini yang
menyebabkan perusahaan-perusahaan merubah strategi proses bisnis yang baru
yaitu “Go Green” atau ramah lingkungan. Tertulis dalam Jurnal Perancangan
Produk Berbasis Lingkungan oleh Saifuddin MN “Dalam kaitannya dengan industri, perlu dikembangkan aspek bisnis yang
tidak hanya berorientasi ekonomi tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan
lingkungan. Pada tahun 1992 setelah KTT di Rio, World Bussiness Council for Sustainable Development (WBCSD) memperkenalkan
konsep “eco-efficiency” yang
menghubungkan antara kelestarian lingkungan dengan keuntungan ekonomi, atau
“menciptakan nilai tambah produk (kualitas & kuantitas) tanpa merusak
lingkungan”.
Proses
Bisnis yang ramah lingkungan adalah rangkaian kegiatan bisnis pada suatu
organisasi atau perusahaan yang mempertimbangkan aspek lingkungan di setiap
langkah proses bisnis yang dilalui. Proses bisnis yang dijalani tidak hanya
mencari keuntungan semata, tetapi juga mempertimbangkan efek positif maupun negatif
dari proses bisnis tersebut dengan menjaga keseimbangan lingkungan, dan menggunakan
cara, bahan, dan alat-alat yang ramah lingkungan dan menghasilkan produk yang
ramah lingkungan.
Perancangan
Produk Berbasik Lingkungan
Proses bisnis yang berbasis
lingkungan dapat dijalankan dengan merancang produk yang berbasis lingkungan
Tertulis dalam Jurnal Perancangan Produk Berbasis Lingkungan oleh
Saifuddin MN :
Perancangan
produk berbasis lingkungan (Design for the Environment _DFE) merupakan
suatu konsep perancangan produk yang mempertimbangkan aspek lingkungan pada
semua langkah yaitu langkah produksi, proses manufaktur, proses perakitan, dan
setelah produk habis masa pakainya (production rump-up). Gambar 1.
menunjukkan tahapan dan proses pengembangan produk, dengan kelestarian
lingkungan merupakan aspek penting yang dipertimbangkan pada tiap tahapannya.
Pertimbangan terhadap aspek kelestarian lingkungan ditegaskan oleh gambar
bintang, dimana jumlah bintang menyatakan tingkat perhatian yang diperlukan.
Gambar 1. Proses
pengembangan produk
DFE dapat
mengurangi potensi efek negatif terhadap lingkungan dengan memperhatikan,
mengevaluasi serta menentukan siklus hidup produk secara sistematis pada semua
tahap perancangan dan pengembangan produk. Efek negatif terhadap lingkungan
dapat disebabkan oleh eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan serta
penggunaan material berbahaya dan material yang mengandung racun dalam
pembuatan produk. Efek negatif terhadap lingkungan (udara, air dan tanah)
diantaranya adalah:
- Penipisan ozon.
- Efek hujan asam
dan emisi gas buangan pabrik.
- Penipisan
oksigen diudara.
- Pencemaran oleh
substansi beracun.
- Pencemaran oleh
material padat.
Pengembangan
Berkelanjutan
Pengembangan
berkelanjutan dapat didefinisikan sebagai suatu upaya untuk mencapai kualitas
dan kuantitas produk yang maksimal dengan mempertimbangkan aspek kelestarian
lingkungan untuk kelanjutan generasi yang akan datang. Pengembangan
berkelanjutan ditujukan untuk memperbaiki kualitas hidup tiap individu, tanpa
mengekploitasi sumber daya alam secara berlebihan.
Untuk mewujudkan
pengembangan berkelanjutan, perlu diperhatikan proses sebagai berikut, yaitu;
aksi dan kesadaran tiap individu dan pelaku bisnis, perilaku konsumtif dan
produktif, kebijakan, menciptakan inovasi dengan melestarikan lingkungan serta
memperbaiki kualitas hidup. Faktor-faktor tersebut diatas meliputi tiga aspek
penting yaitu: ekonomi, sosial dan lingkungan. Dalam dunia bisnis, ini dikenal
dengan “the triple bottom line“. Hubungan tersebut ditunjukkan pada
gambar 2.
Beberapa kondisi
yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan berkelanjutan, yaitu:
● Menganggap bumi
sebagai suatu sistem tertutup, dengan input energi matahari dan
kemampuan alam untuk melakukan proses daur ulang terbatas.
● Energi matahari
dan sumber daya alam merupakan sumber energi yang harus tetap berkelanjutan.
● Penggunaan
sumber daya alam dan ketersediaanya harus seimbang .
● Pemakaian
substansi yang berbahaya dan substansi yang mengandung racun harus dikurangi
dan dihindari.
Siklus Hidup
Produk
Siklus hidup
produk merupakan bagian penting untuk pengembangan berkelanjutan, dengan
menghubungkan antara keuntungan secara ekonomi dan kelestarian alam. Siklus
hidup produk didasarkan pada prinsip untuk mencegah polusi oleh aktifitas
proses produksi yang dapat mengganggu kelestarian alam, menggunakan sumber daya
alam seminimal mungkin serta memperbaiki kualitas produk.
Konsep siklus
hidup produk dapat dinyatakan dengan “6 RE philosophy” berikut yaitu:
● Re-think, memperhatikan
kembali produk dan fungsinya. Produk harus direncanakan dengan lebih efisien
dengan demikian dapat menghemat pemakaian energi dan sumber daya alam.
● Re-duce, menghemat
energi dan konsumsi material pada semua siklus hidup produk.
● Re-place, mengganti
penggunaan substansi yang berbahaya dengan substansi yang ramah lingkungan.
● Re-cycle, memilih
material yang dapat dan mudah di daur ulang.
● Re-use, merencanakan
produk yang setiap bagiannya dapat digunakan kembali.
● Re-pair, merencanakan
produk agar mudah untuk diperbaiki sehingga tidak harus diganti.
Dunia bisnis
sekarang dituntut untuk mengembangkan produk dengan konsep siklus hidup produk.
Dalam konsep siklus hidup produk, proses pengembangan produk tidak hanya
memperhatikan proses manufaktur saja tetapi juga mempertimbangkan efek produk
terhadap lingkungan setelah produk habis masa pakainya dan proses distribusi.
Melalui perbaikan siklus hidup produk, diharapkan proses produksi menjadi
maksimum, harga produksi menjadi minimum dan dapat memuaskan pelanggan.
Strategi Bisnis Ramah
Lingkungan
Banyak Perusahaan yang telah menerapkan
proses bisnis ramah lingkungan.
Perusahaan menerapkan beberapa strategi untuk mengurangi biaya dan
menambah nilai perusahaan tetapi tetap mempertimbangkan aspek lingkungan.
Berikut adalah beberapa strategi berikut :
1. Konsumsi energi di gedung atau perkantoran – Banyak perusahaan yang kini tengah mengevaluasi besaran pemakaian energi rata-rata per meter persegi dan menerapkan langkah-langkah terbaik untuk menguranginya melalui penelitian konsumsi energi, penerapan langkah efisiensi, modifikasi peralatan, dsb.
2. Sarana transportasi pegawai – Beberapa contoh inisiatifnya berupa pemberian insentif bagi pekerja yang mau mennggunakan angkutan umum untuk pergi ke kantor dan menggelar program berbagi tumpangan (car/van pooling).
3. Sarana telekomunikasi pegawai – Insentif telekomunikasi ini bisa diberikan sebagai ganti biaya sewa ruang dan transportasi pekerja yang tidak hanya bermanfaat bagi pegawai dan perusahaan, juga bagi lingkungan.
4. Efisiensi operasional – Perusahaan mulai menerapkan proses penghematan energi dalam operasionalnya sehari-hari. Langkah yang bisa dilakukan adalah dengan mengevaluasi tingkat konsumsi energi pada saat jam sibuk dan mengurangi waktu pemakaian energi pada waktu tenggang (off-hour usage).
5. Mengurangi penggunaan kertas – Perusahaan bisa mengurangi pemakaian kertas dengan memanfaatkan sistem telekomunikasi elektronik dan menset printer memakai ukuran kertas yang sama.
6. Sistem daur ulang – Praktik daur ulang umum dilakukan oleh perusahaan yang sudah memraktekkan sistem pengelolaan lingkungan seperti sistem manajemen limbah.
7. Kemasan yang ramah lingkungan – Harga produk bisa dipangkas dengan sistem pengemasan yang makin efisien dan ramah lingkungan.
8. Mengurangi polusi lingkungan – Perusahaan kini semakin aktif mengurangi efek gas rumah kaca melalui penerapan teknologi yang makin efisien dan canggih.
Perusahaan harus memperhitungkan
biaaya dan manfaat dari setiap praktik bisnis yang berkelanjutan. Jika
diperlukan, perusahaan bisa memanfaatkan konsultan lingkungan untuk
menganalisis proses bisnis mereka dan menerapkan praktik ramah lingkungan yang
tepat bagi perusahaan.
REFERENCE :
1. Saifuddin MN. Perancangan Produk Berbasis Lingkungan : Teknik Mesin, Politeknik Negeri Lhoksumawe.
2. Maria Manurung, Elvy. PERAN PENGETAHUAN DAN PROSES BELAJAR TERHADAP PERUBAHAN STRATEGI PRAKTEK BISNIS: SEBUAH ANALISIS WACANA TENTANG PERUBAHAN IKLIM, Vol 15 Nomor 1, Januari 2011.3. www.alpensteel.com/article/55-114-artikel-non-energi/502--bisnis-yang-ramah-lingkungan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar